7 Alasan Mengapa Indonesia Harus Mengadopsi Free/Open Source Software (FOSS)

Salah satu pertanyaan umum saat ini yang sering diulang-ulang dan menjadi topik berbagai seminar nasional untuk memperkenalkan FOSS adalah apa saja yang menjadi alasan mengapa Indonesia harus mengadopsi FOSS tersebut?

Dengan latar belakang dan tujuan untuk mendukung program IGOS Summit 2, maka saya mencoba menuliskannya dalam artikel sekaligus mencari (googling) dan mempelajari berbagai informasi berkaitan dengan FOSS di Indonesia. (Saya jadi sadar, bahwa kompetisi penulisan artikel di blog ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan dan mempromosikan FOSS dan IGOS).

Free/Open Source Software (FOSS), secara ringkas diartikan sebagai perangkat lunak atau program komputer yang menyertakan kode program (source code, sehingga disebut sebagai opened source) dan tersedia bebas untuk digunakan, digandakan, dipelajari, dimodifikasi, didistribusikan ulang, dan disebarluaskan.

Istilah FOSS sendiri merupakan penggabungan dari Free Software dan Open Source. Berikut kira-kira penjelasan lebih detilnya:
Kebebasan pengguna perangkat lunak di dalam Free Software mengacu pada Free Software Definition. Dengan kebebasan-­kebebasan tersebut, masyarakat dapat tetap mempertahankan sisi sosialnya seperti membantu dan berkolaborasi tanpa harus takut dianggap pembajak, tuntutan hukuman, dan lain­-lain. Gerakan Free Software ini tidak hanya merupakan gerakan pengguna perangkat lunak saja tetapi juga gerakan sosial, yang dinaungi oleh Free Software Foundation (FSF). Istilah Free lebih dimaknai sebagai Freedom atau Kebebasan.

Sedangkan Open Source adalah sebuah cara pengembangan perangkat lunak yang mengijinkan orang untuk membaca, mendistribusikan kembali, dan memodifikasi kode sumber sehingga perangkat lunak dapat berkembang cepat. Masyarakat luas dapat memodifikasi, mengadaptasi, dan memperbaiki bug. Semua orang dapat berbagi dan berkolaborasi. Untuk mendapatkan persetujuan dari Open Source Initiative (OSI) yaitu organisasi non­profit yang me­ngelola dan mempromosikan Open Source Definition (OSD) sebagai perangkat lunak Open Source, perseorangan atau perusahaan harus memasukkan lisensinya ke OSI untuk disesuaikan dengan Open Source Definition (OSD), sebuah dokumen tentang definisi bagaimana sebuah software dan lisensi dikatakan Open Source.

Pada dasarnya Free Software dan Open Source ini hampir sama, perbedaannya secara umum hanya filosofi terutama yang berhubungan dengan etika/nilai, moral, pendekatan, idealisme serta cara memandang dunia. Walaupun begitu, keduanya dapat bekerja bersama dalam berbagai proyek praktis, sehingga banyak orang sering menyebutnya dengan Free/Open Source Software (FOSS).

Contoh FOSS yang paling banyak digunakan di berbagai negara di dunia saat ini adalah GNU/Linux (atau Linux-Kernel) dan aplikasi FOSS di dalamnya (maksud saya: distro Linux), yaitu sistem operasi komputer yang dilengkapi berbagai program aplikasi untuk memenuhi kebutuhan (office, internet, programming, desain grafis, pendidikan, multimedia, hiburan, dan sebagainya) pengguna komputer pada umumnya, termasuk untuk berbagai kebutuhan di bidang industri, pemerintahan, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Lisensi Linux menggunakan GNU/GPL, yang juga disertakan dan dapat dibaca dalam setiap software dan distro yang kita gunakan. Dalam setiap situs FOSS biasanya disertakan links ke website atau nama lembaga yang sudah menggunakannya, istilah umumnya adalah Powered By. Silahkan mengunjungi links beberapa FOSS ini, misalnya: Apache, Qmail, Proftpd, PHP, MySQL, Joomla, Drupal.
Dan karena kebetulan saya adalah pengguna Linux, maka banyak hal yang mengacu kepada Linux sebagai salah satu FOSS dalam tulisan ini.

Jika ditanyakan ada berapa jumlah FOSS dan apa saja jenisnya? Jawabannya adalah banyak sekali, silahkan mengunjungi salah satu repository dan pengembang FOSS terbesar yaitu SourceForge.net untuk membuktikannya.

Dan sesuai dengan judul topik tulisan ini, berikut 7 alasan mengapa Indonesia harus mengadopsi FOSS tersebut:

  1. Penegakan Undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). HAKI merupakan terjemahan atas istilah “Intellectual Property Right (IPR)“. Secara singkat, HAKI merupakan hak-hak (wewenang/kekuasaan) untuk berbuat sesuatu atas Kekayaan Intelektual tersebut, yang diatur oleh norma-norma atau hukum-hukum yang berlaku. Di Indonesia, hukum yang dimaksud salah satunya adalah Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 yang melindungi antara lain hak cipta atas program/piranti lunak komputer, buku pedoman penggunaan program/piranti lunak komputer dan buku-buku (sejenis) lainnya. (Informasinya di Dirjen HKI Departemen Hukum dan HAM). Intinya adalah pada penggunaan software legal, sehingga tidak ada lagi istilah pembajakan software di Indonesia. Dimana tingkat pembajakan yang tinggi (sumber dari BSA) dapat mengakibatkan kurangnya kepercayaan dunia kepada Indonesia. Solusi yang dapat dipilih adalah membeli lisensi yang berakibat dengan biaya atau menggunakan FOSS yang memberikan kebebasan (freedom) tanpa harus melanggar Undang-undang.
  2. Penghematan biaya dan devisa negara. Biaya yang dimaksud meliputi: (1) Biaya pengadaan sofware, yaitu pembelian sistem operasi untuk desktop dan server beserta aplikasi yang digunakan (office, programming, desain grafis, pendidikan, multimedia dan lain sebagainya) untuk masyarakat umum, industri, pemerintahan, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. (2) Biaya pemeliharaan, jika kita menggunakan FOSS akan memudahkan untuk memperoleh update terhadap bug/patch, dokumentasi dan support yang didukung oleh komunitas FOSS dunia. Demikian juga permasalahan virus, trojan jarang terjadi pada sistem yang menggunakan Linux. (3) Menggunakan FOSS tidak harus merubah infrastruktur dan perangkat komputer yang digunakan, komputer lama masih dapat digunakan. Dalam dunia Linux terdapat berbagai pilihan distro sesuai hardware yang digunakan, atau bisa juga menggunakan jaringan thin-client. Daripada dana untuk membeli software yang mahal, maka bisa untuk beli hardware. Lebih baik juga jika kita gunakan untuk biaya belajar, mengembangkan, membuat usaha, atau hal-hal lain yang lebih baik untuk upaya pengembangan diri dan masyarakat luas. Dengan penggunaan FOSS tentunya dapat menghemat devisa negara, dan dana untuk penggunaan software dalam bidang teknologi informasi dapat dialihkan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dan permasalahan lainnya.
  3. Trend perkembangan teknologi informasi tingkat dunia saat ini. Kini FOSS sudah banyak digunakan oleh berbagai negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Setiap orang di Indonesia dapat menggunakan FOSS sebagai software legal di komputernya masing-masing tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar, sehingga berdampak kepada pemerataan penguasaan teknologi informasi kepada semua kalangan masyarakat, yang berarti memperkecil kesenjangan teknologi informasi dan tentunya hal ini membawa dampak positif kepada pencerdasan kehidupan bangsa. Sifat FOSS dimana kode sumber disertakan dalam distribusinya, akan menghemat waktu pembangunan sebuah sistem informasi berbasis FOSS. Hal ini merupakan sebuah fenomena yang sedang berkembang pesat saat ini. Contohnya adalah aplikasi CMS produk FOSS (wordpress, joomla, drupal), dimana dapat dibuat web/blog dengan sangat cepat, tidak harus membangun sistem tersebut dari awal.. Bukti nyata bahwa kini banyak sekolah sekolah di indonesia sudah memiliki website sendiri menggunakan CMS tersebut. Dan bukan hal yang tidak mungkin, semua sekolah di Indonesia dapat juga memilikinya, karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkannya, SDM sekolah pun tidak harus memiliki keahlian khusus dalam bidang pemrograman. Bagi mahasiswa dan pelajar dapat belajar sistemnya. (Dan satu lagi contoh nyata, blog yang saya gunakan ini pun menggunakan CMS berbasis FOSS). Dengan mengikuti trend perkembangan teknologi informasi yang mengarah kepada penggunaan FOSS di berbagai negara dunia, Indonesia dapat menjadi bagian dari komunitas teknologi informasi dunia dan tidak terasingkan. Sudah saatnya teknologi informasi tidak hanya menjadi milik negara maju saja, tetapi menjadi milik Indonesia juga.
  4. FOSS merupakan software berkualitas. Sisi kualitas ini dilihat dari berbagai wujud sebagai berikut: (1) Karakteristik FOSS yang menyertakan kode sumbernya membuat proses pengembangannya sangat cepat, dimana setiap ditemukan bug akan segera diketahui bersama-sama dan segera diperbaiki. (2) Keamanan dan kestabilan, karena berkaitan dengan stuktur program. Linux dikembangkan dalam jaringan (berstruktur server), multiuser, dan multitasking. Terbukti banyak server di dunia menggunakan linux yang stabil dan memiliki security baik, plus jarang menderita serangan virus, trojan, spyware. (3) Tersedia beraneka macam sesuai dengan kebutuhan kita sehari-hari, dimana dalam dunia Linux dikenal banyak distro (kunjungi distrowatch) sesuai dengan kebutuhan penggunaannya, distro untuk umum, server, industri, pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya. dan kemudahan untuk dirubah sesuai dengan kebutuhan (remastering). Dapat digunakan dalam berbagai arsitektur (termasuk embeded software). Di Indonesia sendiri sudah banyak contoh yang dihasilkan, salah satunya adalah BlankOn dan IGOS Nusantara. (4) Tingkat user friendly dan keindahan desktop (GUI) serta dukungan support hardware yang semakin baik dan mudah digunakan, pandangan bahwa FOSS sulit menjadi berubah. (5) Dukungan dengan berbagai bentuk dan dari berbagai komunitas (forum, milis, groups, conference, dsb) dan dokumentasi dari pengembang atau komunitas penggunanya (Readme, HOWTO, Guide, Manual, Info) dalam berbagai bahasa di dunia. (Salah satu referensi dokumentasi Linux yang saya sukai di Linux Documentation Project)
  5. Dukungan terhadap bahasa dan budaya lokal. Ketersediaan kode program FOSS memungkinkan menggunakan software dengan bahasa indonesia, setiap kita mengunjungi situs open source, biasanya selalu ada istilah ‘in your language‘. Maksudnya bahwa FOSS tersebut menyediakan dukungan untuk penggunanya menggunakan dalam bahasa masing-masing. Adaptasi menggunakan bahasa lokal kita masing-masing ini dapat dilihat dalam salah satu fitur berbagai distro (BlankOn dan IGOS Nusantara), demikian juga dengan penterjemahan aplikasi FOSS lainnya (kebanyakan adalah CMS seperti yang sudah saya sebutkan di atas). Budaya bangsa indonesia yang gemar bergotong royong-banyak persahabatan, saling berbagi, keterbukaan dan menjunjung tinggi demokrasi merupakan modal dasar yang sudah kita miliki.
  6. Meningkatkan kualitas dan keselamatan nasional, dimana software yang digunakan sudah diuji banyak orang di dunia dan apabila ditemukan kesalahan, dapat diperbaiki secara cepat. Pengguna dan pengembang dapat saling berbagi informasi. Kesalahan dapat dengan mudah diperbaiki karena kita bisa melihat baris programnya. Dengan demikian data, informasi pada sistem informasi yang dibangun Indonesia akan aman dan stabil.
  7. Potensi dan Peluang Usaha. Dengan banyaknya hal yang dapat dilakukan dengan FOSS, akan dibutuhkan banyak SDM. Pengembangan Perangkat Lunak Lokal. Memungkinkan berkompetisi dalam pengembangan OSS dengan negara lain, memancing kreativitas dan tidak tergantung karena bisa dirubah sesuai kebutuhan, dan membuka peluang usaha (mengurangi pengangguran yang merupakan masalah indonesia saat ini, dimana dibutuhkan banyak orang yang mengerti tentang OSS dan support). Dan bagi industri non-IT, dapat memperoleh akses ke FOSS sebagai software berkualitas dan dapat bersaing dengan industri dari luar negeri.

Dengan berbagai alasan di atas serta kelebihan yang ditawarkan FOSS, sudah saatnya Indonesia tidak perlu ragu lagi untuk mengadopsi FOSS. Bahwa FOSS merupakan solusi terbaik bagi Indonesia dalam penggunaan software legal dan handal. FOSS pada dasarnya sangat menguntungkan dan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia. FOSS menjunjung tinggi nilai-nilai kemerdekaan dalam bidang teknologi informasi dan dapat meningkatkan kecerdasan bangsa serta memperkuat perekonomian Indonesia.

Maka marilah kita menjadi bagian dalam komunitas FOSS dunia demi kesejahteraan rakyat dan kemajuan Indonesia dalam bidang Teknologi Informasi. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen, kemauan belajar, semangat bergotong royong, dan saling berbagi. Yang semua hal tersebut sebenarnya sudah jauh terlebih dahulu dimulai dan dilakukan oleh komunitas-komunitas pengguna dan pengembang FOSS di Indonesia. Usaha dan kerja keras rekan-rekan komunitas FOSS (diantaranya: Open Source Indonesia, KPLI dan KPLD, komunitas pengguna berbagai distro di Indonesia (salah satunya komunitas Ubuntu), komunitas Joomla, komunitas Drupal, WordPress berbahasa Indonesia, tokoh FOSS Indonesia, dan banyak lagi lainnya) terbukti sudah memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, sekaligus mengharumkan nama Indonesia dalam komunitas FOSS dunia. Sehingga sudah seharusnya kita berterima kasih dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada komunitas FOSS di Indonesia.

Mengakhiri tulisan ini, saya berharap inisiatif program IGOS Summit 2 yang sebentar lagi akan digelar semoga menghasilkan komitmen bersama yang dapat diimplementasikan secara nyata dalam berbagai bidang kerja kita masing-masing. Harapan khusus untuk DepDikNas yang juga menyepakati deklarasi IGOS, semoga setelah IGOS Summit 2 digelar, saya mendengar dan membaca hal baru berkaitan kebijakan penggunaan FOSS dalam kurikulum TIK di sekolah (tingkat pendidikan dasar dan menengah). Saya sangat berharap tersedianya buku mata pelajaran TIK yang menggunakan FOSS.

Salam IGOS .. :-)

Tagged on: , , ,

7 thoughts on “7 Alasan Mengapa Indonesia Harus Mengadopsi Free/Open Source Software (FOSS)

  1. semut

    aduuuuuhhhhh,,,,,
    pusing,,,,, gak ngerti dehhhh….
    di ksai tugas ama dosen suru nyariii tentang linux ama cabang-cabangnya.
    mohon bantuan,,,

  2. yudios

    Selamat sore Mas, saya ingin tanya. Bagaimana aturan Haki dalam penulisan buku yang membahas tentang software Open source? kasusnya: dalam tutorial tersebut tentu akan banyak terdapat potongan tampilan dari software tersebut untuk dijelaskan, Apakah ada aturan tersendiri yang mengatur mengenai hal tersebut?
    Jika saya menulis buku tersebut, apa yang Mas sarankan?