9 Harapan Sekolah Untuk Program IGOS Summit 2

Tidak ada kata terlambat dan menyerah untuk maju. Kalimat ini tepat jika saya ucapkan untuk kebijakan Program IGOS yang akan dideklarasikan untuk kedua kalinya, yaitu IGOS Summit 2. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganggu tidur saya sejak pertama saya membaca akan berlangsungnya event tersebut:

  1. Apa yang menjadi latar belakangnya, apakah IGOS pertama gagal?
  2. Apa tujuan dan komitmen yang akan dibangun melalui IGOS Summit 2?
  3. Siapa saja yang akan menandatangi deklarasi IGOS kedua kalinya ini?
  4. Apa saja strategi pelaksanaan komitmen tersebut?
  5. Apakah besok akan ada lagi program IGOS Summit 3? IGOS Summit 4? IGOS Summit 5?

Tentu saja jawaban ini akan saya peroleh beberapa saat lagi setelah mengikuti event tersebut 🙂 (semoga saja masih ada tempat yang tersedia, sehingga saya bisa mengajak rekan-rekan kerja saya yang lain).

Berbicara mengenai pertanyaan strategi pelaksanaan komitmen IGOS Summit 2 dalam dunia pendidikan, saya ingin menuliskan harapan sekolah yang ingin mewujudkan komitmen tersebut dengan menggunakan Free/Open Source Software (FOSS) dalam proses pendidikan dan administrasi sekolah. Sekedar usulan dan saran yang menjadi uneg-uneg atas permasalahan yang biasa terjadi di sekolah (dan bukan mewakili sekolah). Harapan ini adalah berdasar pengalaman dan situasi yang saya lihat selama bekerja sebagai staf IT 4 tahun di sekolah, salah satunya bahwa ternyata tidak mudah memperkenalkan Free/Open Source Software (FOSS) di sekolah. Saya merasa sekarang adalah waktu yang cukup tepat untuk menuliskannya, bertepatan dengan event IGOS Summit 2. Tujuannya tentu saja untuk berbagi pengalaman, yang barangkali dapat menjadi inspirasi dengan harapan semoga kebijakan program IGOS Summit 2 tidak hanya sebatas ide bagi penggunaan FOSS di sekolah.

  1. Pengadaan buku paket mata pelajaran TIK sesuai kurikulum yang berlaku dengan FOSS sebagai program yang digunakannya. Terlepas dari kurikulum mata pelajaran TIK yang masih tumpang tindih, peranan buku tersebut sangat penting bagi guru dan siswa. Bagaimana guru dapat mengajarkan FOSS jika belum ada buku panduannya? Belum lagi guru harus belajar FOSS… Buku ini sekaligus menjawab pertanyaan orang tua yang mempertanyakan apakah FOSS layak untuk diajarkan di sekolah. Bahwa ternyata DepDikNas pun mendukung dan mengakuinya. Perlu juga mengadakan seminar tentang sosialisasi kebijakan DepDiknas dalam penerapan FOSS di sekolah.
  2. Software khusus untuk sekolah minimal sesuai dengan kurikulum. Hal ini khusus hanya bagi sekolah yang baru akan memulai menggunakan FOSS. Kesulitan yang masih sering dihadapi adalah sulitnya memperoleh software yang biasa digunakan untuk proses belajar mata pelajaran TIK. Cara yang bisa dilakukan diantaranya adalah remastering distro untuk mata pelajaran TIK, dibuatkan live CD (versi desktop dan server). Meski sudah ada distro khusus untuk pendidikan (misal: Edubuntu), tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan mata pelajaran TIK pada umumnya. Tentu saja beserta dengan panduan dan manual penggunaannya. Dan yang paling penting dukungan terhadap update dan supportnya. Tetapi jangan sampai mematikan kreativitas bagi pihak sekolah dalam menyajikan materi pelajaran TIK, misalnya memaksa sekolah harus menggunakan distro tertentu.
  3. Kompetisi komputer tingkat daerah dan nasional untuk sekolah dengan menggunakan FOSS. Seperti salah satu event IGOS Summit 2, yaitu kompetisi pembuatan e-magazine dengan menggunakan FOSS. Hal ini mendorong pihak sekolah untuk mempelajari FOSS tersebut agar dapat mengikuti kompetisi.
  4. Menggalakkan program FOSS Goes To School (selain program Internet Goes To School) bekerjasama komunitas pengguna Linux, Linux training, dan sebagainya. Program tersebut nantinya akan membantu pihak sekolah yang akan melakukan migrasi dan memberikan pelatihan. Dengan berlakunya program Internet Goes To School yang berlanjut dengan SAS Online untuk sekolah-sekolah di DKI, dimana proses penilaian bagi siswa menggunakan internet. Maka semua sekolah akhirnya melakukan hal yang sama, yaitu memasang internet di sekolahnya. Sehingga saat di laboratorium komputer, dimana seringkali guru TIK ditanya oleh siswa berkaitan dengan topik HAKI dan lisensi software, apakah software yang digunakan berlisensi atau bajakan? Maka guru dapat memberikan jawaban yang baik.
  5. Membuat wadah/komunitas FOSS sekolah, sebagai media saling berbagi dan mendapatkan perkembangan terbaru seputar FOSS di sekolah. Salah satu bentuk yang bisa dibangun adalah website pusat kajian FOSS khusus sekolah. Membuat daftar sekolah yang sudah menggunakan FOSS. Selain memotivasi pihak sekolah, berfungsi juga sebagai forum diskusi untuk menyampaikan saran dan usulan berkaitan dengan proses penerapan FOSS di sekolah. Situasi saat ini yang menyulitkan adalah pihak sekolah masih sendiri-sendiri dalam penerapan FOSS tersebut. Dalam prakteknya dapat dibuat jaring-jaring FOSS di masing-masing wilayah. Contoh yang cukup baik adalah program Jardiknas (Jaringan Informasi Sekolah) dengan dukungan konsultan ICT di sekolah-sekolah, nantinya pihak sekolah akan menyediakan 1 konsultan yang memberikan informasi terbaru terkait dengan penerapan FOSS.
  6. Kompetensi FOSS dimasukkan juga dalam uji kompetisi guru-guru mata pelajaran TIK. Hal ini akan memacu semangat guru-guru komputer agar merasa tidak sia-sia mempelajari FOSS. Berarti perlu juga dipikirkan pelatihan/seminar/workshop/training tentang FOSS bagi guru-guru TIK.
  7. Salah satu syarat bagi penilaian akreditasi sekolah adalah bidang pemanfaatan teknologi informasi di sekolah, yang menyebutkan bahwa pihak sekolah sudah menggunakan komputer dalam proses administrasi dan proses belajar mengajar, dan tersedianya jaringan internet sebagai alat bantu pendidikan. Berkaitan dengan FOSS, perlu ditambahkan penggunaan software legal dalam penilaian tersebut.
  8. Dalam setiap proses administrasi sekolah dengan pihak diknas diusahakan menggunakan ODF (Open Document Format), sehingga memudahkan bagi sekolah yang sudah menggunakan FOSS untuk memproses data tersebut. Kesulitan yang dihadapi saat ini adalah karena file yang diberikan biasanya masih dalam format software proprietary dengan ekstension tertentu, sehingga pihak sekolah terpaksa membeli software proprietary yang mahal harganya atau menggunakan software bajakan untuk menggunakannya. Meski sebagaian format file software proprietary dapat dibuka menggunakan office FOSS, namun seringkali hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selalu muncul pertanyaan, office yang digunakan versi berapa? Berapa kali harus berganti-ganti office setiap tahunnya karena format yang berbeda? Berapa biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk memproses data tersebut? Saya rasa jika diknas mulai menggunakan ODF, maka pihak sekolah akan bersemangat menggunakan FOSS dan meninggalkan software bajakan atau software proprietary yang mahal harganya.
  9. Membuat panduan pengadaan website sekolah dan sistem informasi sekolah menggunakan FOSS (maksudnya CMS). Masih banyak sekolah yang belum memiliki website sendiri (apalagi sistem informasi sekolah), alasan yang sering muncul adalah karena membangun website tersebut membutuhkan biaya yang mahal, ditambah dengan keahlian programming bagi guru-guru pengembang website. Dengan diadakannya panduan tersebut, maka pihak sekolah akan merasa tertarik dan akan membuat sendiri websitenya. Panduan yang saya maksudkan adalah seperti yang pernah saya baca, yaitu panduan pengadaan website pemerintah daerah yang dikeluarkan oleh DepKominfo. Nantinya aplikasi CMS yang bisa digunakan misalnya adalah Joomla, Drupal, WordPress untuk website sekolah, dan Moodle untuk CMS elearning, forum ilmiah dengan menggunakan SMF, phpBB, dan sejenisnya, serta perpustakaan online atau digital library. Perlu dukungan khusus terhadap lokalisasi bahasa CMS tersebut sesuai kaedah bahasa Indonesia, sehingga memudahkan pihak sekolah untuk mengembangkan dan menggunakannya. Dan akan lebih menarik lagi jika menyediakan support dan fasilitas hosting gratis bagi website yang dibangun dengan FOSS bagi sekolah-sekolah.

Demikian beberapa harapan sekolah berkaitan dengan strategi pelaksanaan program IGOS Summit 2 di sekolah. Semoga sekolah-sekolah di Indonesia dapat menjadi tempat terbaik bagi pengajaran dan penghargaan lisensi software, HAKI dan IGOS kepada siswa dan generasi muda. Dan suatu saat nanti, semboyan kreativitas tanpa batas (yang juga menjadi semboyan IGOS) menjadi milik sekolah-sekolah di Indonesia…

Salam Open Source… 🙂