Konsep Integrasi TIK dalam Pembelajaran Menurut UNESCO vs Integrasi Mata Pelajaran TIK di Kurikulum 2013

Dalam dokumen paparan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Bidang Pendidikan, tentang Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013, disebutkan bahwa Konsekuensi implementasi kurikulum 2013 salah satunya adalah guru TIK. TIK digunakan di semua mata pelajaran dalam kurikulum 2013, dan sebagai persiapan solusinya adalah Guru TIK dapat berfungsi sebagai guru BK atau pindah sesuai dengan prodi asalnya. Di berbagai media, Kemdikbud juga mengatakan bahwa tidak ada penghapusan mata pelajaran dalam Kurikulum 2013, yang ada hanya pengintegrasian mata pelajaran. Mata pelajaran TIK menurut Kurikulum 2013 akan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Menurut pemerintah pengintegrasian ini dilakukan karena penting, serta menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat. Maksud bahwa mata pelajaran TIK tidak dihilangkan melainkan diintegrasikan dengan semua mata pelajaran adalah bahwa pembelajaran semua mata pelajaran selain dengan tatap muka guru-murid juga (lebih banyak) dilakukan dengan interaksi melalui media internet. Di mana guru TIK lah yang akan mengambil peran sangat besar. Dengan kata lain jika sebelumnya TIK hanya sebatas membuka, mengetik, dan pembelajaran browsing maka yang diinginkan oleh Kurikulum 2013 adalah kemampuan tersebut langsung diaplikasikan untuk kegiatan belajar mengajar.

Satu hal yang jelas bagi saya bahwa dalam struktur kurikulum sebelum kurikulum 2013, yaitu kurikulum 2004 (KBK) dan kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran TIK ada di jenjang SMP dan SMA sebagai mata pelajaran wajib dan SD sebagai muatan lokal (mulok), dan dalam kurikulum 2013 mata pelajaran tersebut tidak ada, yang disahkan dalam PP Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menunjukkan bahwa mata pelajaran TIK dihapus (tidak ada) dalam struktur kurikulum sebagai sebuah mata pelajaran.

Menyoal permasalahan integrasi mata pelajaran TIK di kurikulum 2013, berikut panduan UNESCO untuk meluruskan istilah integrasi TIK dalam pembelajaran ataupun kurikulum yang dibuat oleh pengambil kebijakan di kurikulum 2013 dalam dokumen publikasi UNESCO terkait panduan integrasi TIK di pendidikan (sekolah), judul aslinya: ICT Transforming Education: A Regional Guide.

Model Adopsi TIK di Pendidikan dan Penggunaanya

Latar belakang dibuatnya model tahapan integrasi ini dikarenakan kondisi masing-masing negara tidak sama, sangat berbeda dalam hal demografis dan indikator pendidikannya, yang pada gilirannya menyebabkan perbedaan dalam mengambil kebijakan dan implementasi TIK dalam pendidikan. Pada satu sisi ada sekolah di daerah terpencil, karena keterbatasan sumber daya keuangan, tidak ada pasokan listrik, atau kurangnya infrastruktur dasar lainnya, belum dapat mulai memperkenalkan TIK di sekolah-sekolah. Di tempat lainnya, ada sekolah yang telah sepenuhnya mengintegrasikan TIK dalam kurikulum di semua mata pelajaran sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar, ruang kelas dan administrasi sekolah, dan seluruh etos organisasi berubah menggunakan TIK. Panduan tersebut diperuntukkan bagi sekolah dan tidak hanya mencakup sekolah dasar dan menengah tetapi juga bagi sekolah pendidikan guru di perguruan tinggi dan universitas; bagi guru untuk mengacu pada guru di sekolah dan juga dosen dalam program pendidikan untuk calon guru. Untuk mengukur tahap integrasi TIK yang dicapai oleh negara, kabupaten, sekolah, atau bahkan kelas dalam sebuah sekolah, UNESCO memberikan model tahapan integrasi. Model ini berfungsi sebagai representasi dari integrasi TIK dalam pendidikan, jenis atau framework.

Tahapan Integrasi ICT (TIK)

Model integrasi TIK seperti pada gambar memiliki dua dimensi: teknologi dan pedagogi. Teknologi merujuk untuk semua teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan pedagogi adalah seni dan ilmu mengajar. Dimensi teknologi adalah sebuah kontinum yang mewakili jumlah dari penggunaan TIK yang semakin meningkat/beragam. Dimensi pedagogi juga sebuah kontinum dan mewakili perubahan praktek mengajar yang dihasilkan dari penerapan TIK. Dalam dua dimensi ini terdap;at empat tahapan model integrasi TIK pada sistem pendidikan dan sekolah. Keempat tahapan ini merupakan tahapan kontinum, yang oleh UNESCO diistilahkan dengan Emerging, Applying, Infusing dan Transforming.

Model Kontinum Tahapan Integrasi TIK di Pendidikan dan Sekolah (UNESCO)

Model Kontinum Tahapan Integrasi TIK di Pendidikan dan Sekolah (UNESCO)

  1. Tahap Emerging dicirikan dengan pemanfaatan TIK oleh sekolah pada tahap permulaan. Pada tahapan ini, sekolah baru memulai membeli atau membiayai infrastruktur TIK, baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Kemampuan TIK guru-guru dan staf administrasi sekolah masih berada pada tahap memulai eksplorasi penggunaan TIK untuk tujuan manajemen dan menambahkan TIK pada kurikulum. Pada tahap ini sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional, akan tetapi sudah ada kepedulian tentang bagaimana pentingnya penggunaan TIK tersebut dalam konteks pendidikan. Pada tahap ini, fokus di kelas sering belajar keterampilan TIK dasar dan mengidentifikasi komponen TIK. Guru pada tahap ini sering menggunakan peralatan yang tersedia untuk tujuan profesional mereka sendiri, seperti pengolah kata untuk mempersiapkan lembar kerja, spreadsheet untuk mengelola daftar kelas dan, jika internet juga tersedia, untuk mencari informasi atau berkomunikasi melalui e-mail. Dengan cara ini, guru mengembangkan keterampilan literasi TIK mereka dan belajar bagaimana menerapkan TIK untuk berbagai tugas profesional dan pribadi. Penekanannya adalah pada belajar menggunakan berbagai tools dan aplikasi, dan menjadi sadar akan potensi TIK dalam pengajaran kedepannya . Pada tahap Emerging, praktek kelas masih sangat banyak berpusat pada guru.
  2. Tahap Applying dicirikan dengan sudah adanya pemahaman tentang kontribusi dan upaya menerapkan TIK dalam konteks manajemen sekolah dan pembelajaran. Dan biasanya di negara-negara tersebut sudah ada kebijakan nasional TIK. Para tenaga pendidik dan kependidikan telah menggunakan TIK untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan manajemen sekolah dan tugas-tugas berdasarkan kurikulum. Sekolah juga sudah mencoba mengadaptasi kurikulum agar dapat lebih banyak menggunakan TIK dalam berbagai mata pelajaran dengan piranti lunak yang tertentu.
  3. Tahap Infusing menuntut adanya upaya untuk mengintegrasikan dan memasukkan TIK ke dalam kurikulum. Pada pendekatan ini, sekolah telah menerapkan teknologi berbasis komputer di laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Guru berada pada tahap mengeksplorasi cara atau metode baru di mana TIK mengubah produktivitas dan pekerjaan profesional mereka untuk meningkatkan belajar siswa dan pengelolaan pembelajaran. Kurikulum mulai menggabungkan subjek pembelajaran yang mencerminkan aplikasi dunia nyata.
  4. Tahap Transforming dicirikan dengan adanya upaya sekolah untuk merencanakan dan memperbaharui organisasinya dengan cara yang lebih kreatif. TIK menjadi bagian integral dengan kegiatan pribadi dan kegiatan profesional sehari-hari di sekolah. TIK sebagai alat yang digunakan secara rutin untuk membantu belajar sedemikian rupa sehingga sepenuhnya terintegrasi di semua pembelajaran di kelas. Fokus kurikulum mengacu pada learner-centered (berpusat pada peserta didik) dan mengintegrasikan mata pelajaran dengan dunia nyata. TIK diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri dengan level profesional dan disesuaikan dengan bidang-bidang pekerjaan sekaligus sebagai ilmu untuk mendukung model pembelajaran berbasis TIK dan menciptakan karya TIK. Sekolah sudah menjadi pusat pembelajaran untuk para komunitasnya. Untuk menyimpulkan, ketika tahap transformasi tercapai, seluruh etos lembaga tersebut berubah: guru dan staf pendukung lainnya menganggap TIK sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari lembaga mereka, yang telah menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat.

Pemetaan Model Integrasi TIK ke Belajar dan Mengajar

Dalam konteks belajar mengajar dan kaitannya dengan keempat tahap yang disebutkan sebelumnya, terdapat pula 4 tahap yang berkaitan dengan bagaimana guru dan peserta didik mempelajari dan menemukan percaya diri mereka dalam menggunakan TIK. Keempat tahap tersebut adalah menyadari (becoming aware of ICT), belajar bagaimana (learning how to use ICT), mengerti bagaimana dan kapan (understanding how and when to use ICT), dan menjadi ahli (specializing in the use of ICT) dalam penggunaan TIK. Berikut ini adalah ilustrasi keempat tahap tersebut:

Model Tahapan Pembelajaran dengan TIK UNESCO

Model Tahapan Pembelajaran dengan TIK (UNESCO)

Pada tahap pertama, guru dan siswa baru mencoba mengenali fungsi dan kegunaan perangkat TIK. Tahap ini berkaitan dengan tahap emerging, yang menekankan pada kemelekan TIK (ICT literacy) dan keterampilan dasar. Tahap selanjutnya, belajar bagaimana menggunakan perangkat TIK, menekankan pada bagaimana memanfaatkan perangkat-perangkat TIK tersebut dalam berbagai disiplin. Tahap ini meliputi penggunaan aplikasi umum dan khusus TIK, dan berkaitan dengan tahap applying. Tahap ketiga mengacu pada pemahaman bagaimana dan kapan menggunakan perangkat TIK untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Ini menekankan pada kemampuan membaca situasi kapan TIK dapat membantu, memilih perangkat yang sesuai untuk tugas tertentu, dan menggunakan perangkat ini untuk memecahkan masalah yang sebenarnya. Tahap ini berkaitan dengan tahap infusing dan transforming dalam hal pengembangan TIK. Tahap keempat mengacu pada bagaimana menjadi ahli dalam penggunaan perangkat TIK. Pada tahap ini, siswa mempelajari TIK sebagai mata pelajaran yang membawa mereka untuk menjadi ahli. Hal ini lebih mengarah kepada pendidikan kejuruan atau profesional dan berbeda dengan tahap sebelumnya.

Yang seharusnya terjadi adalah sambil belajar tentang TIK (learning about ICT), siswa juga belajar dengan menggunakan atau melalui TIK (learning with and or through ICT) dan guru mengajar dengan menggunakan atau melalui TIK (teaching with and through ICT). Ingat, yang dimaksud dengan TIK tidak hanya komputer dan internet tapi segala jenis media informasi dan komunikasi lainnya.

Dalam konteks kemampuan menggunakan TIK di masyarakat, UNESCO mengemukakan beberapa alasan untuk mengembangkan penggunaan TIK dalam sistem pendidikan, yaitu:

  1. untuk mengembangkan atribut pengetahuan-masyarakat bagi siswa, termasuk pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi, kebiasaan belajar sepanjang hayat, dan kemampuan berfikir secara kritis, mengkomunikasikan dan mengkolaborasikan, mengakses, mengevaluasi dan mensintesis informasi
  2. untuk mengembangkan keterampilan dan kompetensi TIK pada diri siswa, sebagai bekal yang dapat digunakan untuk memanfaatkan TIK dalam duania kerja dan masyarakat,
  3. untuk mengatasi masalah dalam dunia pendidikan, antara lain termasuk penggunaan TIK untuk meningkatkan efesiensi kegiatan administrasi dan pengajaran, mengatasi keterbatasan sumber bahan dalam bidang tertentu (misalnya kekurangan buku teks atau sumber belajar), mengatasi isu pemerataan melalui perluasan akses terhadap pengetahuan, sumber dan keahlian, atau bahkan membantu guru-guru yang mungkin kurang diperlengkapi dengan sumber belajar yang cukup.

Menutup tulisan ini, dalam paparan Kemdikbud disebutkan bahwa Kurikulum 2013 menempatkan Bahasa Indonesia sebagai penghela mata pelajaran lain (carrier of knowledge), bisa dipahami jika kemudian bahasa indonesia jam pelajarannya ditambahkan. Seyogyanya TIK yang salah duanya merupakan sarana dan media pembelajaran semua mata pelajaran di kurikulum 2013 juga harus diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri untuk mendukung pembelajaran berbasis TIK dan mengembangkan atribut pengetahuan, keterampilan dan kompetensi TIK bagi siswa seperti panduan yang dibuat UNESCO. Sangat jelas panduan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB), bahwa tidak mengintegrasikan mata pelajaran, melainkan menggunakan TIK untuk pembelajaran, dan TIK seharusnya diajarkan di sekolah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Muatan dan kompetensi dasar mata pelajaran TIK-lah yang selanjutnya dan seyogyanya diperbarui dan mengajarkan sebagai TIK sains, literasi digital dan komputasi untuk membekali siswa sebagai generasi yang memiliki kompetensi abad 21.

Setelah tulisan ini saya akan menuliskan beberapa fakta terkait kebijakan mata pelajaran TIK dari berbagai negara di belahan dunia. Dan sesuai dengan perkembangan TIK saat ini negara-negara tersebut sudah mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran di kurikulum nasional-nya (pembelajaran berbasis TIK) dan tetap ada mata pelajaran TIK di kurikulumnya meskipun dengan nama yang berbeda (beberapa diantaranya adalah: ICT, Computing, Computer Science, Literacy Digital, Technology Digital, ICT Literacy, dan sebagainya).

Referensi: