Masalah Job Description Orang IT

Menjadi orang IT di sebuah lembaga yang awam dengan urusan komputer (IT), akan sangat berbeda jika menjadi orang IT perusahaan yang memang khusus bergerak di bidang IT, karena dibutuhkan orang yang mempunyai komitmen, motivasi dan imajinasi (lebih) sehingga dapat bertahan dengan aneka tuntutan dan pemahaman yang keliru akan pandangan lembaga kepada orang tersebut… Juga karena dibutuhkan kemampuan untuk meng-coding bahasa orang IT menjadi bahasa yang mereka pahami, dalam berbagai kasus (berdasar situasi dan kondisi) yang mungkin dapat dipecahkan atau menjadi lebih baik dengan bantuan IT. Pandangan bahwa lulusan Ilmu Komputer/Teknik Informatika harus menguasai berbagai bidang komputer menjadi tekanan dan tantangan yang sangat berat… (Seharusnya mereka menyadari, bahwa seorang Guru Bahasa Indonesia belum tentu dapat menjadi Guru Bahasa Inggris… Meski dengan SubJudul yang sama, Guru Bahasa…)

Saya kenal seorang teman bernama Budi yang kemudian bercerita kepada saya tentang pengalamannya. Awal ceritanya begini: sampai saat ini secara kelembagaan Budi dan rekan-rekan sekerjanya belum mendapat status sebagai staf IT. Sebutan staf IT adalah sebutan yang Dia buat sendiri untuk memudahkan dalam memberi gambaran ke orang lain (yang paham job description bidang IT). Hampir 3 tahun Budi dan rekan-rekannya bekerja dengan job description yang sangat kompleks:

  • Hardware: merakit, troubleshoot, minta penawaran harga, beli peripheral.

  • Software: instal, maintenance, dan update.

  • Jaringan: merancang, memasang kabel, bikin server, pasang koneksi internet, maintenance jaringan intranet/internet n server.

  • Sistem Informasi: menganalisa sistem, bikin situs, hosting, admin web, milis, editorial Internet.

  • Kebijakan Pengembangan: merancang program pengembangan, presentasi, survei.

  • Pengembangan SDM: memberi pelatihan, bikin panduan.

  • Administrasi: laporan pertanggungjawaban, operator web.

Ringkasnya, menangani berbagai bidang disiplin ilmu dari (implementasi) satu Fakultas Ilmu Komputer. Kalau diibaratkan komputer dan jaringan, ini adalah simulasi clustering 20 PC yang dipaksa dijalankan pada 1 PC… Untungnya bahwa si Budi dan rekan-rekannya adalah supercomputer (mainframe) yang menggunakan Linux sehingga tahan banting…

Sebagian besar orang di tempat kerjanya menganggap Budi dan rekan-rekannya adalah Teknisi Komputer (Teknisi Komputer yang bagaimana ya?). Dengan berbagai beban tugas yang demikian, Budi dan rekan-rekan dalam Surat Perjanjian Kerja selama ini adalah sebagai Staf Divisi Pengadaan Barang Pelengkap Pendidikan. Permasalahannya adalah bagaimana pengalaman kerja Budi yang sudah hampir 3 tahun ini Budi tuliskan dalam CV Budi? Setiap hubungan dengan perusahaan IT dan lembaga lain selama ini, Budi selalu bertanya-tanya dalam hatinya, Budi harus menyebut Jabatan sebagai apa di tempat kerjanya? Staf Divisi Pengadaan Barang Pelengkap Pendidikan? Siapa yang tahu apa kerjanya?

Harapan Budi hanya ada 2:

  1. Bahwa Budi ingin sebuah surat pengalaman kerja dengan status sebagai Staf IT (keren khan? Hehe…). Budi menyadari bahwa gelarnya (S1) saja bukan Sarjana Komputer (melainkan Sarjana Sains)… Kira-kira mau ngga pihak manajemen SDM memberikan surat pengalaman kerja sebagai Staf IT? Untuk semua deskripsi kerja yang disebutkan di atas? Karena permasalahan terbesar Budi adalah bagaimana Budi menjelaskan bahwa Dia adalah orang IT (di tempat kerja yang lama) saat Budi melamar pekerjaan yang baru?

  2. Budi juga ingin agar simulasi clustering itu dijalankan pada 20 PC, karena hasilnya pasti akan jauh lebih baik, lebih cepat dan tidak terbayangkan…

Di akhir cerita Budi berbisik lirih kepada saya, bahwa Budi hanya ingin menjadi seperti pesan Bapaknya, “Le, dadio wong sing migunani tumraping liyan…”,

Tagged on: ,