Persoalan Perangkat Lunak Modul Dasar TIK Guru Pembelajar Moda Daring

Sebagai orang awam namun sering bertemu dengan ibu dan bapak guru di sekolah, saya sering mendengar istilah Program Guru Pembelajar. Ada sedikit kegelisahan yang mengusik saya hingga saya menuliskannya di sini, terkait perangkat lunak (software) komputer yang digunakan dalam Modul Dasar TIK dan Buku Manual Peserta, karena modul ini digunakan oleh semua guru Indonesia yang mengikuti program Guru Pembelajar Moda Daring. Seperti diketahui bersama, Program Guru Pembelajar didasarkan atas hasil pemetaan yang dilakukan melalui uji kompetensi guru (UKG) beberapa waktu lalu, dan merupakan upaya dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Portal Guru Pembelajar

Portal Guru Pembelajar

Dari buku Manual untuk Peserta Guru Pembelajar yang saya baca, program peningkatan kompetensi Guru Pembelajar ini dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang mengacu pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendiknas Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, dan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Informasi selengkapnya tentang Guru Pembelajar dan Modul serta panduan dapat diakses di laman Portal Guru Pembelajar (https://gurupembelajar.id/).

Guru Pembelajar Moda Daring

Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dilakukan melalui tiga moda, yaitu Moda Tatap Muka, Moda Daring (Dalam Jaringan atau Online), dan Moda Daring Kombinasi. Program ini berlaku baik bagi guru kelas, guru mata pelajaran/paket keahlian, guru bimbingan konseling, dan guru TIK/KKPI untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk materi pembelajaran moda tatap muka menggunakan modul cetak, sedangkan moda dalam jaringan menggunakan modul, lembar kerja, dan lembar informasi yang disusun dan disajikan secara digital. Guru yang mengikuti program Guru Pembelajar Moda Daring wajib mengunduh dan memahami Modul Dasar TIK dan Buku Manual Peserta sebelum memulai pembelajaran dalam LMS. Dengan demikian TIK dalam ini menjadi alat bantu dan media yang digunakan untuk belajar.

Perangkat Lunak Guru Pembelajar Moda Daring

Dalam Kata Pengantar Modul Dasar TIK dijelaskan bahwa Modul Dasar TIK ini dimaksudkan untuk mendukung “Guru Pembelajar Moda Daring” guna meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di bidangnya sesuai dengan: (1) Sasaran Kegiatan (SK.7.4004.1) Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019: Meningkatnya kompetensi pendidik dan tenaga pendidikan sesuai bidangnya. (2) Permenpan Nomor 64 tahun 2009 (saya belum tahu ini tentang apa? Googling yang saya temukan adalah Permenpan Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya). (3) Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. (4) Permendiknas Nomor 28 tahun 2010 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.

Modul Dasar TIK tersebut terdiri dari 3 topik pembahasan, yaitu:

  • Topik 1 Dasar Penggunaan Komputer. Pengenalan Sistem Komputer dan Perangkatnya, Mengoperasikan Perangkat Komputer, Menggunakan Sistem Operasi
  • Topik 2 Aplikasi Microsoft Office 2010. Microsoft Word, Microsoft PowerPoint, Microsoft Excel
  • Topik 3 Internet. Pengenalan Internet, Menghubungkan Komputer dengan internet, Mengenal Web Browser, Menggunakan Mesin Pencari (Search Engine), Electronic Mail (Email), Mengenal Media Sosial, Chatting.

Dari topik pembahasan dan isi materinya kita dapat mengetahui perangkat lunak apa saja yang digunakan oleh guru, mentor, dan pengampu dalam proses pembelajaran.

Persoalan Perangkat Lunak Dalam TIK Guru Pembelajar

LMS Guru Pembelajar

Aplikasi LMS (Learning Management System) menggunakan LMS Open Source Moodle merupakan pilihan yang baik. Moodle tersebut terjemahan belum lengkap jika dilihat dari Panduan, mengapa tidak diupayakan untuk menerjemahkan dalam bahasa Indonesia seutuhnya agar lebih memudahkan guru dalam belajar? Seperti yang dahulu dikatakan bahwa Bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu pengetahuan dan wahana teknologi yang mampu mengikat persatuan dan kesatuan bangsa, terutamanya dalam dunia pendidikan. Atau mungkin bisa juga karena keterbatasan waktu dalam menyiapkannya untuk banyaknya guru yang mengikuti program ini.

Modul Dasar TIK Guru Pembelajar Moda Daring

  • Kenapa tidak ada pengantar tentang lisensi perangkat lunak dan jenis-jenisnya? Atau saat login dalam LMS diberikan pengantar lisensi software? Bagi saya, memahami masalah lisensi perangkat lunak adalah awal yang penting agar guru sebagai pendidik dapat memberikan teladan yang baik bagaimana menghormati hasil karya orang lain. Guru, Sekolah, dan Pendidikan merupakan tempat terbaik bagi pendidikan tentang etika menggunakan TIK, lisensi software, dan mengenal berbagai aplikasi selain proprietary software.
  • Dalam modul dasar TIK tersebut langkah-langkah panduan serta screenshot menggunakan sistem operasi dan aplikasi office yang merupakan Proprietary Software. Persoalannya, apakah ada kesepakatan antara pemerintah dalam hal ini DitJen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud dengan Microsoft untuk melegalkan perangkat lunaknya bagi kepentingan pelaksanaan program guru pembelajar? Jika memang tidak ada kesepakatan, mengapa tidak dipertimbangkan untuk menggunakan perangkat lunak Free Open Source Software (FOSS). Misalnya 10 persen peserta guru pembelajar adalah pengguna sistem operasi dan aplikasi FOSS terus bagaimana? Sistem operasi apakah hanya ada Windows saja? Aplikasi Office apakah hanya ada Microsoft Office saja? 🙂
  • Berdasarkan data yang bagaimana sehingga disimpulkan dibuat panduan dengan versi aplikasi seperti yang disebutkan dalam Modul Dasar TIK Guru Pembelajar Moda Daring.
  • Jika memang Modul Dasar TIK tersebut berlaku untuk semua guru di sekolah Indonesia, seharusnya pembahasannya luas dan tidak sempit pada suatu merek tertentu saja. Jika dibiarkan seperti ini, sama saja dengan memaksakan penggunaan software berbayar kepada guru. Tidak jadi masalah jika gurunya merupakan orang kaya yang sanggup membeli software berbayar yang asli untuk digunakan, tetapi bagi guru honor yang memiliki penghasilan pas-pasan tentu saja (ujung-ujungnya) akan beralih ke software bajakan. Modul dan panduan ini seolah tidak memberi ruang bagi guru untuk belajar dan mempelajari berbagai aplikasi FOSS.

Menutup tulisan ini, saya sebenarnya tidak mempersoalkan apakah Proprietary Software atau FOSS, asalkan legal. Bahwa tidak semua sekolah memiliki School Agreement dengan produsen perangkat lunak, atau mengapa Kemdikbud tidak menyediakan akses misalnya semacam Microsoft Imagine atau pilihan lisensi perangkat lunak lainnya agar dapat digunakan guru pembelajar secara gratis dengan lisensi yang legal. Selamat belajar Ibu Bapak Guru Pembelajar, untuk masa depan yang lebih baik bagi anak negeri. Salam TIK untuk Pendidikan.

Referensi:

  • Portal Guru Pembelajar. https://gurupembelajar.id/