Bulan ini sekolah-sekolah di tempat kerja saya resmi menggunakan domain sekolah sch.id, yang terdaftar di PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Selain domain baru, kami juga memindahkan hostingnya ke hosting Binus. Lumayan juga proses migrasinya, karena saya kerjakan sendiri
dibantu 1 System Administrator dari IT Directorate Binus. Jumlah situs web yang dipindahkan hostingnya ada 17. Mulai dari web portal sekolah, elearning, katalog perpustakaan online dan inventory. Selain untuk kepentingan situs web sekolah, domain sekolah juga digunakan untuk sistem email dan kolaborasi menggunakan Google Apps for Education.
URL (weblinks) untuk semua domain sekolah tersebut dapat dikunjungi di sini: Sekolah Tarsisius 1, Sekolah Damai, Sekolah Tarsisius 2, Sekolah Vianney, Sekolah Tarsisius Vireta, E-Learning Sekolah Tarsisius 1, E-Learning Sekolah Damai, E-Learning Sekolah Tarsisius 2, E-Learning Sekolah Vianney, E-Learning Sekolah Tarsisius Vireta, Continue reading »
Layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti Jardiknas, Buku Sekolah Elektronik (BSE), Model Website Sekolah, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, anugerah ePendidikan, Balitbang Kemdiknas, Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas), dan Badan Standar Nasional Pendidikan secara tidak langsung menjadi salah satu wujud perhatian pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah Indonesia saat ini. Di sisi lain, sekolah juga perlu menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pemanfaatan TIK, baik sebagai media pembelajaran (e-Education), e-Learning, administrasi sekolah maupun layanan informasi sekolah dan pendidikan (website sekolah dan pendukungnya) agar menjadi lebih optimal, efektif dan berdayaguna. Continue reading »

Sistem informasi berbasis web (website) yang dibutuhkan sekolah, diantaranya berupa website sekolah (bisa berwujud portal), portal alumni sekolah, website e-learning, dan katalog perpustakaan online. Untuk membangun sistem informasi tersebut, diperlukan mesin yang memiliki kemampuan menangani konten informasi secara dinamis.
Pengembang dan komunitas Open Source dunia telah memberikan banyak pilihan CMS Open Source yang tersedia bebas di Internet dan sudah terbukti handal serta banyak digunakan berbagai lembaga pendidikan (sekolah) di dunia. Dari berbagai CMS Open Source tersebut, berdasarkan fungsi dan fiturnya, dan berdasarkan penggunanya selama ini, CMS Open Source apa yang tepat untuk sekolah? Continue reading »
Dalam salah satu kategori dari sekian banyak penilaian tentang akreditasi sekolah yang saya baca dari situs Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN SM) disebutkan bahwa sekolah melaksanakan praktikum komputer. Selain pembelajaran berupa praktikum komputer, juga disebutkan dukungan terhadap administrasi sekolah menggunakan TIK. Berkaitan dengan praktikum komputer ini ada satu hal yang sempat terbersit dalam pikiran saya, bahwa dalam kurikulum mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) disebutkan tentang HAKI dan software legal dalam pembelajaran di sekolah (kebetulan saya sedang mengajarkannya untuk siswa SMA kelas X
).
Sejalan dengan praktikum komputer dan administrasi sekolah, saya merasa bahwa item penggunaan software legal perlu mendapat perhatian khusus. Tujuan yang ingin dicapai misalnya:
- Melaksanakan amanat yang disebutkan dalam kurikulum pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tentang HAKI.
- Mengurangi tingkat pembajakan software di sekolah (masih adakah sekolah yang menggunakan software bajakan?
) - Mempercepat penggunaan Free/Open Source Software di sekolah-sekolah Indonesia. Untuk membeli lisensi software proprietary rasanya anggaran dana yang ada pada sekolah tidak mencukupi dan akan memberatkan pihak sekolah. Continue reading »
Belum lama ini (Oktober 2008), telah diterbitkan buku pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) dalam format elektronik (PDF) yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia. (Links download file buku TIK berbasis FOSS untuk SMA/MA dalam format elektronik (PDF) dari sini:
- Buku TIK SMA Kelas X Semester 2 (pdf)
- Buku TIK SMA Kelas XI Semester 1 (pdf)
- Buku TIK SMA Kelas XI Semester 2 (pdf)
- Buku TIK SMA Kelas XII Semester 1 (pdf)
- Buku TIK SMA Kelas XII Semester 2 (pdf)
Dengan salah satu latar belakang utamanya yaitu: Berkaitan dengan IGOS; Pengenalan, penggunaan dan pemanfaatan open source dapat berlangsung sejak dini, dan sekaligus dapat menumbuhkembangkan kreativitas dalam menciptakan piranti lunak berbasis Open Source (saya kutip dari pengantar Buku tersebut). Penghargaan dan ucapan terima kasih untuk rekan-rekan penyusun buku TIK berbasis FOSS untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Komunikasi dan Informatika. Continue reading »
Salah satu cara memperkenalkan Linux dan Free/Open Source Software (FOSS) di Sekolah adalah dengan mengadakan seminar. Pernyataan ini saya peroleh dari beberapa pendapat rekan-rekan saya yang pernah mengikuti seminar Linux dan FOSS di sekolah. Singkatnya adalah dengan mengundang narasumber dari komunitas Linux dan Open Source. Tujuannya untuk mensharingkan dan berbagi pengetahuan, memberi 'pencerahan', sekaligus memberikan motivasi kepada pihak sekolah. Dengan demikian, materi yang disampaikan misalnya meliputi:
- Pemahaman yang benar tentang lisensi software, HAKI, dan IGOS.
- Permasalahan lisensi software, HAKI, pembajakan software dan dampaknya bagi pembelajaran dan proses administrasi di sekolah.
- Linux dan Open Source Software untuk proses administrasi di sekolah.
- Kurikulum Teknologi Informasi dan Komunikasi (untuk TK, SD, SMP dan SMA) berbasis Linux dan Open Source Software.
- Instalasi Linux dan software open source untuk laboratorium sekolah.
- Instalasi Linux dan software open source untuk kantor guru, tata usaha, ruang OSIS, dan perpustakaan sekolah.
Tidak ada kata terlambat dan menyerah untuk maju. Kalimat ini tepat jika saya ucapkan untuk kebijakan Program IGOS yang akan dideklarasikan untuk kedua kalinya, yaitu IGOS Summit 2. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganggu tidur saya sejak pertama saya membaca akan berlangsungnya event tersebut:
- Apa yang menjadi latar belakangnya, apakah IGOS pertama gagal?
- Apa tujuan dan komitmen yang akan dibangun melalui IGOS Summit 2?
- Siapa saja yang akan menandatangi deklarasi IGOS kedua kalinya ini?
- Apa saja strategi pelaksanaan komitmen tersebut?
- Apakah besok akan ada lagi program IGOS Summit 3? IGOS Summit 4? IGOS Summit 5?
Tentu saja jawaban ini akan saya peroleh beberapa saat lagi setelah mengikuti event tersebut
(semoga saja masih ada tempat yang tersedia, sehingga saya bisa mengajak rekan-rekan kerja saya yang lain).
Berbicara mengenai pertanyaan strategi pelaksanaan komitmen IGOS Summit 2 dalam dunia pendidikan, saya ingin menuliskan harapan sekolah yang ingin mewujudkan komitmen tersebut dengan menggunakan Free/Open Source Software (FOSS) dalam proses pendidikan dan administrasi sekolah. Sekedar usulan dan saran yang menjadi uneg-uneg atas permasalahan yang biasa terjadi di sekolah (dan bukan mewakili sekolah). Harapan ini adalah berdasar pengalaman dan situasi yang saya lihat selama bekerja sebagai staf IT 4 tahun di sekolah, salah satunya bahwa ternyata tidak mudah memperkenalkan Free/Open Source Software (FOSS) di sekolah. Saya merasa sekarang adalah waktu yang cukup tepat untuk menuliskannya, bertepatan dengan event IGOS Summit 2. Tujuannya tentu saja untuk berbagi pengalaman, yang barangkali dapat menjadi inspirasi dengan harapan semoga kebijakan program IGOS Summit 2 tidak hanya sebatas ide bagi penggunaan FOSS di sekolah. Continue reading »






My Recent Comments